
Cinta itu sekadar epos, atau bahkan cuma delusi…
Tanpa wujud riil, ia terombang-ambing dalam dialektika interpretasi sejak awal peradaban manusia ditiupkan menjadi being…
Ia ada di luar sana, ia ada, entah di mana…
Cuma kita yang tak sanggup terus melamun berbingunglah, yang lalu (socially constructed) berusaha mempersonifikasikannya…
Atau ia tetap berjarak, menjadi alam, keindahan, atau ide-ide lain seperti kedamaian, kebebasan, dan keteraturan…
Kepada anak-anak, orangtua, kekasih, kaum tertindas, kelompok-kelompok identitas yang mengikat kita, dan lainnya…
Terus begitu, hingga suatu saat kelak tak ada lagi entitas yang ingat untuk atau bagaimana menafsirkan abstraksi bernama cinta itu…
Namun persetan dengan definisi, entah mengapa cinta selalu adalah katalis perubahan…
Ia berkelindan secara kimiawi dengan waktu, menjadi alasan, dorongan, dan motivasi…
Ia bercokol di tempurung menjadi sebuah ide yang sangat hidup dan haus akan asupan pengejawantahan, untuk dipuaskan, untuk diperjuangkan…
Maka mencinta adalah memuaskan dan memperjuangkan.
Maka mari terus merawat ingatan, menolak lupa, tentang cinta…

***
blah blah blah!!! hahaha
– kasur di kamar, dini hari yang tak tahu diri, yang dingin namun memeras keringat
